Hampir 25 tahun saya melihat ia berjuang melawan kanker dimuka. Pertama kali hanya bercak kecil yang mulai membesar. Tahun demi tahun saya melihat dia pergi kerumah sakit dan daging tumbuhnya dipotong. Setelah beberapa waktu berlalu mukanya mulai tidak karuan, Dan apabila setiap kerumah sakit dimana daging dimukanya dipotong sana-sini, Ia tidak pernah mengeluh atau pun terlihat murung. Ia tetap berusaha tersenyum baik saat akan pergi maupun ketika pulang dari rumah sakit, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Ia seorang montir trampil dan tukang kayu yang andal. Saat bekerja ia selalu mengamati dan memeriksa apakah ada sesuatu yang kurang yang dapat ditambahkan sehingga menghasilkan karya yang sesempurna mungkin. Bila ia menemukan "sesuatu" yang tidak baik, tanpa diketahui orang lain diam-diam ia sibuk memoles ini dan itu. Kemudian setelah selesai, ia akan memperhatikannya lagi dan senyum puas terlihat diwajahnya. Kadangkala ia suka berkata sendirian "Karyaku akan menjadi wajah dan hidupku". dalam hati saya ragu apakah ia sering mengaca dan memperhatikan wajahnya yang rusak setiap hari digerogoti kanker.
Walaupun betapa kotornya tempat dimana ia bekerja, sedikitnya "order" pekerjaan, atau betapa kasarnya orang yang bekerja disekitarnya, semua itu tidak menyusahkan dirinya sedikitpun. Ia tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan orang lain. Yang utama menjadi perhatian adalah pekerjaannya sendiri.
Beberapa tahun berlalu, kondisinya semakin memburuk, langkahnya tidak pasti, tangannya tidak bisa digerakkan secepat semula. Walaupun demikian yang dikerjakannya selalu diusahakan dengan baik. Menjelang hari-hari terakhir karena memiliki wajah yang berantakan, ia terpaksa menutupi wajahnya dengan sapu tangan, sehingga yang terlihat hanyalah matanya.
Ketika dijumpai dijalan raya, ia selalu menegur dengan ramah dan gembira. Beberapa waktu kemudian ia menyadari semakin sulit berbicara, sapaannya hanyalah berupa lambaian tongkat pemandu jalan. Tongkat yang dibuatnya sendiri dengan ukiran tangannya yang trampil. belakangan ini ia sering tidak berada ditempat usahanya selama beberapa minggu, karena ia kerumah sakit guna memotong kanker sedikit lagi. Kemudian kita akan melihat dia, sedikit lebih buruk. Namun tidak pernah ia mengeluh ataupun merintih kesakitan akibat operasi. Kita mengira ia tidak apa-apa jika tidak melihat keadaan sesungguhnya dari wajahnya. Ia hanya diam membisu, dan meneruskan pekerjaan yang senantiasa menantikan kedatangannya.
Ketika masa kerjanya ... akan berakhir, kebimbangan utamanya hanyalah apakah peralatannya akan diwarisi oleh orang-orang yang bertanggungjawab yaitu orang yg bisa menghargai dan menggunakan peralatannya dengan baik.
Beberapa hari sebelum menjelang "kepergiannya", saya sempat menemuinya, Ia berjalan dihalaman, dengan wajah tertutup perban semua yang terlihat hanyalah matanya. Ketika ia berjalan tergopoh-gopoh, ia berkata dengan suara lirih "Saya akan berusaha tetap muda selama mungkin." ia masih saja tetap semangat dan bersukacita walaupun sedang sekarat, heran saya ...
Saat meninggal dunia, saya mengunjunginya, bau dikamar itu begitu busuk hingga tidak ada orang yang tahan duduk disana. apa yang tersisa dimukanya hanyalah bekas operasi dan tidak ada lagi daging yang tersisa yang bisa dipotong. Siapapun akan berkata betapa sakitnya ia merasakan dan pasti kurang tidur setiap malam. Namun ia tidak pernah mengeluh sepatah katapun...
Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata terakhirnya. Kata-katanya membuat saya malu bila mengeluh. Kata-kata itu adalah :
"TUHAN begitu baik terhadapku ... tidak ada alasan bagiku untuk mengeluh..."
Take from http://gbiontherock.com